WELCOME TO NEN SHAMY MA BLOG



SELAMAT MEMBACA SEPUAS KAMU DI DALAM BLOG INI

Selasa, 05 Juli 2011

BUKU YANG AKU CINTAI

nen Shamy. R

Mata ku tak melihatmu
kakiku tak sempat memergokmu, tapi malaikat penguasa bumi langit menatapmu.
mengapa kau kau begitu jail?
mengapa kau biarkan tanganmu membuat malu?

oh.. Tuhan aku tidak merestuinya cerdas mendahaluiku
pintar melambungku, karena dia mencuri jiwaku
buku yang aku cintai, apakah kau marah padaku hingga kau berpaling dariku?
kenapa kau tidak menasehati aku biar menyimpanmu dengan baik.
kepada arwah-arwah yang bertayangan kembalikan sosiologi max weber yang hilang karena aku masih merindukanya

ruh telah punah jiwa makin layu
sakit hati memenjarakan tangisan yang berpantul-pantul dalam darahku.
aku mendendamu sampai mati dan akan membalasmu dineraka.

yogyakarta, 7 - 2011

Kamis, 30 Juni 2011

AKU TERLAMPAU PULAS


akhirnya kau tahu, bahwa aku sangat mencintaimu
aku telah meniduri senyum semalam diranjang keningku
terseret tikaman bola mata yang kau saji
untuk membuka pagi yang tertancap di timur

rindu ini matang lebar dan pulas
di sedu pucuk mawar putih yang meluap dari hatiku
parasmu meniup cinta bergegas jemari menangkapnya

aku terlampau pulas
puas di sudut tanpa menyadari
bocah-bocah nakal merestui kita bertemu di ranjang

senja menikam perut bumi
dan hasrat berpantul-pantul membiru membumbung jauh
kau menelan kenikamatan
aku tersimpuh memohon lagi

 jogja, 2011 by. Nen Shamy.R

MEREGANG MATI

adakah yang lebih sirik dari caraku memandang matamu?
adakah yang lebih tajam dari lirikanku yang tertancap pada kelopak matamu?
adakah yang lebih mulia dari caraku memuja parasmu?

aku telah lama menunggu mu distasiun yang melompong ini
yang, rinduku berpacu bersama asap yang mengembara mencari rumah terseret hanyut dalam diriku
jangan pernah pergi jauh
walau hanya untuk sehari
jangan tinggalkan aku sayang
ah, jangan ambil senyummu dari ku, tapi ambilah air matamu dari lautan kesedihan yang berpantul-pantul dalam diriku

akankah kau kembali untuk ku lagi?
ataukah kau biarkan ku, meregang mati?


jogja, juni 2011

Sabtu, 18 Juni 2011

RUMPUN BAHASA AUSTRONESIA




Rumpun bahasa Austronesia adalah sebuah rumpun bahasa yang sangat luas penyebarannya di dunia. Dari Taiwan dan Hawaii di ujung utara sampai Selandia Baru (Aotearoa) di ujung selatan dan dari Madagaskar di ujung barat sampaiPulau Paskah (Rapanui) di ujung timur.

Istilah Austronesia
Austronesia mengacu pada wilayah geografis yang penduduknya menuturkan bahasa-bahasa Austronesia. Wilayah tersebut mencakup Pulau Formosa, Kepulauan Nusantara (termasuk Filipina), Mikronesia, Melanesia, Polinesia, dan Pulau Madagaskar. Secara harafiah, Austronesia berarti "Kepulauan Selatan" dan berasal dari bahasa Latin austrālis yang berarti "selatan" dan bahasa Yunani nêsos (jamak: nesia) yang berarti "pulau".
Jika bahasa Jawa di Suriname dimasukkan, maka cakupan geografi juga mencakup daerah tersebut. Studi juga menunjukkan adanya masyarakat penutur bahasa Melayu di pesisir Sri Langka.

Asal usul bangsa Austronesia
Untuk mendapat ide akan tanah air dari bangsa Austronesia, cendekiawan menyelidiki bukti dari arkeologi dan ilmu genetika. Penelaahan dari ilmu genetika memberikan hasil yang bertentangan. Beberapa peneliti menemukan bukti bahwa tanah air bangsa Austronesia purba berada pada benua Asia. (seperti Melton dkk., 1998), sedangkan yang lainnya mengikuti penelitian linguistik yang menyatakan bangsa Austronesia pada awalnya bermukim di Taiwan. Dari sudut pandang ilmu sejarah bahasa, bangsa Austronesia berasal dari Taiwan karena pada pulau ini dapat ditemukan pembagian terdalam bahasa-bahasa Austronesia dari rumpun bahasa Formosa asli. Bahasa-bahasa Formosa membentuk sembilan dari sepuluh cabang pada rumpun bahasa Austronesia. Comrie (2001:28) menemukan hal ini ketika ia menulis:

“ ... Bahasa-bahasa Formosa lebih beragam satu dengan yang lainnya dibandingkan seluruh bahasa-bahasa Austronesia digabung menjadi satu sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa terjadi perpecahan genetik dalam rumpun bahasa Austronesia di antara bahasa-bahasa Taiwan dan sisanya. Memang genetik bahasa di Taiwan sangatlah beragam sehingga mungkin saja bahasa-bahasa itu terdiri dari beberapa cabang utama dari rumpun bahasa Austronesia secara kesuluruhan. ”

Setidaknya sejak Sapir (1968), ahli bahasa telah menerima bahwa kronologi dari penyebaran sebuah keluarga bahasa dapat ditelusuri dari area dengan keberagaman bahasa yang besar ke area dengan keberagaman bahasa yang kecil. Walau beberapa cendekiawan menduga bahwa jumlah dari cabang-cabang di antara bahasa-bahasa Taiwan mungkin lebih sedikit dari perkiraan Blust sebesar 9 (seperti Li 2006), hanya ada sedikit perdebatan di antara para ahli bahasa dengan analisis dari keberagaman dan kesimpulan yang ditarik tentang asal dan arah dari migrasi rumpun bahasa Austronesia.

Bukti dari ilmu arkeologi menyarankan bahwa bangsa Austronesia bermukim di Taiwan sekitar delapan ribu tahun yang lalu . Dari pulau ini para pelaut bermigrasi ke Filipina, Indonesia, kemudian ke Madagaskar dekat benua Afrika dan ke seluruh Samudra Pasifik, mungkin dalam beberapa tahap, ke seluruh bagian yang sekarang diliputi oleh bahasa-bahasa Austronesia. Bukti dari ilmu sejarah bahasa menyarankan bahwa migrasi ini bermula sekitar enam ribu tahun yang lalu. Namun, bukti dari ilmu sejarah bahasa tidak dapat menjembatani celah antara dua periode ini.
Pandangan bahwa bukti dari ilmu bahasa menghubungkan bahasa Austronesia purba dengan bahasa-bahasa Tiongkok-Tibet seperti yang diajukan oleh Sagart (2002), adalah pandangan minoritas seperti yang dinyatakan oleh Fox (2004:8):
“ Disiratkan dalam diskusi tentang pengelompokan bahasa-bahasa Austronesia adalah permufakatan bahwa tanah air bangsa Austronesia berada di Taiwan. Daerah asal ini mungkin juga meliputi kepulauan Penghu di antara Taiwan dan Cina dan bahkan mungkin juga daerah-daerah pesisir di Cina daratan, terutamanya apabila leluhur bangsa Austronesia dipandang sebagai populasi dari komunitas dialek yang tinggal pada permukiman pesisir yang terpencar. ”
Analisis kebahasaan dari bahasa Austronesia purba berhenti pada pesisir barat Taiwan. Bahasa-bahasa Austronesia yang pernah dituturkan di daratan Cina tidak bertahan. Satu-satunya pengecualian, bahasa Chamic, adalah migrasi yang baru terjadi setelah penyebaran bangsa Austronesia.


MELANESIA (Melanesoide)



Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Melanesia (dari bahasa Yunani "pulau hitam") adalah sebuah wilayah yang memanjang dari Pasifik barat sampai ke Laut Arafura, utara dan timur laut Australia. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Jules Dumont d'Urville pada 1832 untuk menunjuk ke sebuah etnis dan pengelompokan pulau-pulau yang berbeda dariPolinesia dan Mikronesia. Sekarang ini, klasifikasi rasial d'Urville dianggap tidak tepat sebab dia menutupi keragaman budaya, linguistik, dan genetik Melanesia dan sekarang ini hanya digunakan untuk penamaan geografis saja.
Negara-negara yang termasuk ke dalam Melanesia yaitu:
  •  Fiji
  •  Papua Nugini
  •  Kepulauan Solomon
  •  Vanuatu
  • Templat:Country data Indonesia Maluku dan Papua
Sebagai tambahan, negara Fiji, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Vanuatu, danKaledonia Baru (yang merupakan dependensi Perancis) menggunakan istilah ini untuk menggambarkan diri mereka sendiri karena mencerminkan sejarah kolonial dan situasi regional umum yang serupa.

RAS AUSTRALOID




Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Ras Australoid adalah nama ras manusia yang mendiami bagian selatan India, Sri Lanka, beberapa kelompok di Asia Tenggara, Papua, kepulauan Melanesia dan Australia.
Untuk kelompok di Asia Tenggara, orang Asli di Malaysia dan orang Negrito di Filipina termasuk ras ini. Sebelum Ras Mongoloid tiba di Nusantara, Ras Australoid merupakan ras dominan yang tersebar diseluruh pulau, samapi terdesak ke bagian timur Nusantara.
Ciri khas utama ras ini ialah bahwa mereka berambut keriting hitam dan berkulit hitam. Namun beberapa anggota ras ini di Australia berambut pirang dan rambutnya tidaklah keriting melainkan lurus. Selain itu beberapa orang Asli di Malaysia kulitnya juga tidak selalu hitam dan bahkan menjurus putih.


SEJARAH INDONESIA "Indonesië"



Sejarah Indonesia (Dari buku "Indonesië" oleh Dirk Vlasblom)

Penghuni pertama wilayah yang sekarang menjadi Republik Indonesia adalah ras Melanesia yang berkulit hitam dan berambut kriting. Ras Melanesia dulu itu menduduki juga wilayah India yang sekarang, sampai ke wilayah Philipina yang sekarang. Kemudian sekitar 4000 tahun sebelum masehi, masuklah ras Astronesia yang berkulit kuning, yang dulu itu menghuni wilayah China dan Taiwan yang sekarang. Akibat kedatangan ras Astronesia, ras Melanesia di wilayah yang sekarang menjadi Indonesia, tersingkir ke wilayah Papua yang sekarang. Sebagian ras Melanesia berasimilasi dengan ras Astronesia menjadi ras baru yang berkulit sawo matang. Ras campuran Melanesia-Astronesia itu berdagang rempah-rempah dengan China dan Taiwan, asal ras Astronesia, dan berdagang rempah-rempah dengan India, asal ras Melanesia. Baik ras Melanesia di India mau pun ras Astronesia di China jago berdagang, jadi tak heran bila ras asimilasi Melanesia-Astronesia di Indonesia juga piawai dalam berdagang. Ras Melanesia menganut animisme sedangkan ras Astronesia menganut Hindu dan Budha.

Sekitar abad ke tiga setelah masehi, agama Hindu dan Budha tumbuh subur di wilayah yang sekarang menjadi Republik Indonesia. Kerajaan top pertama adalah kerajaan Sriwijaya yang Budha dan berpusat di Sumatra Selatan. Enam abad lamanya kerajaan Sriwijaya berjaya di wilayah yang sekarang menjadi Indonesia itu. Di abad ke sembilan, lahirlah di wilayah yang menjadi pulau Jawa yang sekarang, kerajaan Mataram yang juga Budha. Dinasti Syailendra dari Mataram memerintahkan pembangunan Borobudur. Saat Mataram diperintah oleh raja Airlangga, kerajaan Mataram terlibat pertempuran dengan kerajaan Sriwijaya, meski pun dua kerajaan itu sama-sama Budha. (Cikal-bakal budaya gontok-gontokan Indonesia dimulai oleh Sriwijaya dan Mataram? - DL). Dua kerajaan itu menjadi lemah akibat peperangan dan akhirnya punah sendiri. Di saat vakum itu masuklah pasukan Mongolia/China di bawah komando Kublai Khan ke Indonesia, namun bangsa Mongolia/China itu hanya datang untuk minta upeti dari kerajaan-kerajaan yang (masih) ada di Indonesia ketika itu. Dari reruntuhan kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Mataram itu lahirlah kerajaan baru yang lebih akbar, yaitu kerajaan Majapahit yang Hindu.

Kerajaan Majapahit diduga merupakan kerajaan terbesar yang pernah ada di jaman prehistoris Indonesia. Namun tidak terjadi perang antara pasukan Kublai Khan dengan pasukan Majapahit, sebaliknya terjadi kerjasama dagang erat yang saling menguntungkan. Ekspor rempah-rempah Majapahit pun meluas sampai ke Eropa. Di bawah raja Hayam Wuruk dan patihnya yang terkenal Gajah Mada, kerajaan Majapahit yang Hindu itu menguasai Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan. Beberapa sejarahwan berkata wilayah Majapahit mencakup juga Philipina, Maluku dan Papua. Kebesaran kerajaan Majapahit ditulis oleh Empu Prapanca dalam bukunya Negarakertagama. Kerajaan Majapahit bukan cuma jago berdagang, juga kebudayaan tumbuh cemerlang. Bendera kerajaan Majapahit adalah Dwiwarna, yaitu Merah-Putih. Warna bendera itu pula yang kini menjadi warna bendera Republik Indonesia. Kerajaan Majapahit yang Hindu kemudian runtuh akibat kedatangan pedagang Islam dari Gujarat dan Persia. Perkembangan agama Islam di Indonesia terjadi dari abad ke tiga belas sampai abad ke tujuh belas, di saat agama Islam telah berusia seribu tahun sejak diperkenalkan pertama kalinya oleh Mohamad. Daerah Indonesia yang pertama dijejak oleh Islam adalah Aceh. Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Demak di Jawa, yang menggantikan kemashuran kerajaan Majapahit. Orang-orang Majapahit yang Hindu pun mengungsi ke Bali. Setelah Demak, satu persatu kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia menjadi Islam, seperti kerajaan Banten di Jawa dan kerajaan Makassar di Sulawesi.

Seperti telah diceritakan di atas, di jaman Majapahit perdagangan rempah-rempah mampu menembus pasaran Eropa. Perdagangan itu pula yang membawa orang-orang Eropa datang ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah di lumbungnya langsung. Bangsa Eropa pertama yang menjejakkan kakinya di wilayah Indonesia adalah bangsa Spanyol dan Portugis. Lain dengan bangsa Mongolia/China yang hanya menarik upeti sekaligus berdagang dengan kerajaan-kerajaan di Indonesia, bangsa Spanyol/Portugis datang sekaligus untuk menjajah. Wilayah yang pertama dikuasai oleh bangsa Spanyol/Portigis adalah Malakka, kemudian Maluku. (Metode devide-et-impera rupanya ditemukan pertama kalinya di Maluku itu - DL). Ketika itu sultan Ternate dan sultan Tidore saling berkelahi sendiri, membuat dua sultan itu mudah diadu-domba oleh bangsa Spanyol/Portugis. Akibat termakan adu domba, akhirnya kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore dua-duanya berhasil dikuasai oleh Spanyol/Portugis. Orang Inggeris dan Belanda belakangan menyusul Spanyol/Portugis ke Indonesia, ikut-ikutan mengadu untung di sana. Belanda datang ke Indonesia diwakili oleh VOC di tahun 1602. Pasukan VOC berhasil melumpuhkan Portugis di Maluku dan VOC pun menduduki Maluku. Kesultanan Ternate berhasil melepaskan diri dari jajahan Spanyol/Portugis, kemudian bersama tentara VOC berhantam menaklukkan Tidore. Namun akhirnya baik Ternate mau pun Tidore dijajah oleh VOC.

Kerajaan Demak yang Islam di Jawa pun menjadi lemah karena keturunan raja Demak berhantam sendiri rebutan tahta. Dari puing-puing Kerajaan Demak kemudian muncul dua kerajaan, satu di Surabaya dan satunya di Yogyakarta. Yang di Yogyakarta memakai nama kerajaan Mataram, nama yang sama dengan nama kerajaan Budha/Hindu di jaman baheula yang berperang melawan kerajaan Sriwijaya. Karenanya para ahli sejarah sering juga memakai nama "Old Mataram" untuk Mataram yang Budha/Hindu, dan "New Mataram" untuk Mataram yang Islam. VOC sendiri menancapkan kakinya di kota Jayakarta di Banten, yang kemudian diganti namanya menjadi Batavia oleh Jan Pieterzoon Coen. Dalam pertempuran perebutan kekuasaan antara VOC dan pasukan Inggeris di Batavia, VOC berhasil mengungguli pasukan Inggeris. Sementara itu kerajaan New Mataram makin kuat di bawah Sultan Agung, maka ketika kerajaan rival di Surabaya berhasil ditaklukkan dan seluruh Jawa jatuh di bawah kekuasaan kerajaan Mataram, mata Sultan Agung seperti kelilipan ketika melihat VOC masih enak-enakan bercokol di Batavia. Namun kekuatan kerajaan Mataram tak mampu menaklukkan VOC. VOC sendiri sebetulnya tidak mau berperang dengan kerajaan Mataram, maka VOC mencoba membaiki Sultan Agung dengan mengirim duta besarnya ke Yogyakarta membawa banyak kado-kado. (Kata orang-orang, VOC membawa upeti noni-noni cantik langsing berkulit kuning langsat ke kerajaan Mataram, membuat mata sultan Agung yang tadinya kelilipan menjadi membelalak tidak kelilipan lagi, ihik ihik - DL). Kerajaan New Mataram kemudian terseok-seok jalannya akibat ketidak-mampuan Amangkurat I (putra sultan Agung) yang menggantikan ayahnya, ditambah munculnya perlawanan dari sesama kerajaan Islam, Madura, yang dipimpin oleh raja Trunojoyo. Kerajaan New Mataram minta tolong VOC menghantam kerajaan Madura ('tuh 'kan, gontok-gontokan sendiri hobbynya orang Indonesia ini - DL). VOC bersedia membantu Mataram namun minta konsesi yang mencekik kerajaan Mataram. Sementara itu peran pendatang China di Jawa pun makin besar, bekerja sama dengan VOC. VOC yang tadinya membantu kerajaan New Mataram kemudian pelan-pelan menggerogoti New Mataram. Upaya VOC sukses, di tahun 1757 kerajaan New Mataram pun dipecah dua menjadi kesultanan Surakarta dan kesultanan Yogyakarta, plus Mangkunegaran. VOC sendiri belakangan terseok-seok akibat digerecoki terus-terusan oleh Inggeris, dan di Eropa sendiri Belanda diserbu oleh Perancis, ditambah korupsi di tubuh VOC membuat VOC failit di tahun 1796. Semua asset VOC menjadi milik kerajaan Belanda.